Maket Revitalisasi Kawasan Malioboro Masih Belum Jelas

Pemerintah Kota Jogja  sampai saat ini belum bisa memastikan penyelesaian maket grand design untuk revitalisasi kawasan Malioboro, pemkot masih menunggu pembuatan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan atau RTBL.

Edy Muhammad sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Jogja mengatakan bahwa penataan kawasan Malioboro harus dilakukan dengan menyeluruh, tidak bisa separuh-separuh saja. “Untuk itu, sebelum maket grand design penataan Malioboro dibuat, kami masih menunggu penyelesaian RTBL dari Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah,” jelas Edy. Selain itu, masalah yang berhubungan dengan kawasan Malioboro memang tidak bisa ditangani oleh Pemkot saja. Pasalnya, Pemkot perlu juga mengkaji kebutuhan anggaran termasuk berkoordinasi dengan Kraton, Pemerintah DIY dan Pusat terkait revitalisasi Stasiun Tugu Jogjakarta.

“Jadi, tidak bisa dibebankan hanya ke Pemkot. Masalah ini perlu dipecahkan secara terpadu oleh lintas pemerintahan, pemerintah daerah, DIY dan Pusat,” tambah Edy.

Jika ditanya sampai kapan penyelesaian ini akan segera terlaksana, Edy masih menyangsikan penyelesaiannya karena harus menunggu RTBL juga.

“Yang jelas, kami masih menunggu kebijakan dari Pemerintah DIY dan Pusat. Kalau PT. KAI sudah merehab Stasiun Tugu penataan juga dilakukan,” katanya.

Posted in Fasilitas Malioboro, Jogjakarta, Malioboro | Tagged , , , , , , , , , , | 1 Comment

UPT Malioboro Pasang CCTV untuk Tingkatkan Keamanan Libur Akhir Tahun 2012

Kepala UPT Malioboro Syarif Teguh mengatakan bahwa Malioboro sudah terpasang CCTV sebanyak 7 buah untuk mengantisipasi tindakan kejahatan selama liburan tahunan dan acara tahun baru di Malioboro. CCTV ini akan ditambah lagi pada tahun mendatang karena idealnya harus ada 21 buah CCTV di Malioboro untuk mengcover keamanan secara keseluruhan. “CCTV tersebut kita tempatkan di titik-titik yang diindikasikan rawan adanya tindak kejahatan, seperti copet, penipuan dan sebagainya,” tambah Syarif.

Pemkot Kota Jogja memang sudah berkomitmen untuk meningkatkan keamanan para pengunjung di Malioboro seiring dengan meningkatnya para wisatawan yang berkunjung di Jogja khususnya di kawasan wisata Malioboro.

Selain dipasang CCTV, kawasan Malioboro Jogja juga sudah disebar beberapa petugas keamanan, sekitar 30 orang yang sudah diturunkan untuk membantu keamana para wisatawan.

Semoga usaha yang dilakukan UPT Maliboro ini menjadikan para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara makin betah dan akan terus datang untuk berkunjung ke Malioboro pada tahun-tahun mendatang.

Salam Jogjakarta Berhati Nyaman,, :D

Posted in Jalan Malioboro, Jogja, Libur Akhir Tahun, Malioboro, Malioboro Jogja, UPT Malioboro | Tagged , , , , , | Leave a comment

Jalan Malioboro Macet Padat Merayap

Pada liburan akhir tahun 2012 ini Malioboro kembali dilanda kemacetan parah. Memang Malioboro sudah menjadi tempat kunjungan wajib bagi para wisatawan Jogja, mereka tidak hanya ingin sedekar jalan-jalan dan berbelanja di sekitar kawasan Malioboro, namun kebanyakan mereka ingin juga bernostalgia dengan masa lalu mereka kala datang ke Malioboro mungkin pada tahun-tahun yang lalu.

Perubahan Malioboro memang sangat pesat, icon Jogja ini menawarkan keramahan dalam berbelanja dan bertamasya. Perubahan ini juga telah dibarengi dengan perbaikan sistem lalu lintas di kawasan Malioboro oleh otoritas Malioboro biasa dikenal dengan UPT Malioboro Jogja, dengan harapan ini akan mencegah pengunjung terjebak dalam kemacetan parah.

 

Posted in Libur Akhir Tahun, Liburan, Malioboro, Malioboro Jogja | Tagged , , , | Leave a comment

Jelang Libur Akhir Tahun Awas Terjebak Macet di Malioboro

YOGYAKARTA–MICOM: Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta memperkirakan, kawasan Malioboro dan sekitarnya masih akan menjadi salah satu titik rawan kepadatan arus lalu lintas saat libur Natal dan Tahun Baru 2013 sehingga perlu dilakukan langkah antisipasi.

“Ruas jalan yang rawan mengalami kepadatan arus lalu lintas saat libur panjang akhir tahun adalah Malioboro dan ruas jalan di sekitarnya. Selain itu, titik rawan kemacetan juga bisa terjadi di Jalan Solo serta Jalan Magelang,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta Widorisnomo di Yogyakarta, Minggu (16/12).

Namun demikian, lanjut Widorisnomo, meskipun volume arus lalu lintas di ketiga ruas jalan tersebut cukup padat, namun arus masih bisa bergerak dengan kecepatan rendah.

Langkah antisipasi yang bisa dilakukan agar lalu lintas tetap bisa berjalan dengan lancar, lanjut dia, di antaranya adalah memaksimalkan fungsi “Automated Traffic Control System” (ATCS) yang sudah dipasang di beberapa lampu lalu lintas.

“Dengan peralatan tersebut, petugas bisa mengontrol durasi lampu lalu lintas dari kantor tanpa harus turun ke lapangan. Durasi lampu lalu lintas akan diatur menyesuaikan kepadatan arus lalu lintas,” katanya.

Widorisnomo menambahkan, perubahan manajemen lalu lintas di sekitar Malioboro yaitu di Kleringan, akan membantu mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan tujuan utama wisata Kota Yogyakarta tersebut. Sedangkan bus pariwisata tetap diminta parkir di lokasi parkir yang sudah disediakan, yaitu di Taman Parkir Abu Bakar Ali, Senopati, dan Ngabean.

“Karena libur panjang akhir tahun bertepatan dengan Pasar Malam Perayaan Sekaten, maka Alun-Alun Utara tidak bisa digunakan untuk parkir bus pariwisata,” katanya.

Widorisnomo mengatakan, pihaknya sudah mengusulkan ke pemerintah agar bus pariwisata tersebut bisa memanfaatkan lahan parkir yang ada di sejumlah museum, salah satunya Museum Perjuangan yang memiliki halaman cukup luas. “Selain bisa mendongkrak kunjungan ke museum, bus pariwisata itu juga bisa parkir dengan lebih aman,” katanya.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro Syarif Teguh mengatakan, akan melakukan sejumlah persiapan terkait libur panjang akhir tahun di antaranya membuka posko informasi untuk wisatawan.

“Kami sedang berusaha mencari lokasi yang strategis untuk mendirikan posko ini. Saat ini, kami juga sedang menginventarisir acara apa saja yang akan digelar di Malioboro sepanjang libur akhir tahun,” katanya.

Selain itu, UPT Malioboro juga akan memaksimalkan fungsi radio komunitas dan “closed circuit television” CCTV yang telah terpasang di sepanjang jalan tersebut untuk memberikan layanan kepada wisatawan.

Sumber:

http://www.mediaindonesia.com

http://static.republika.co.id

 

Posted in Automated Traffic Control System, Jalan Malioboro, Lalu Lintas Kendaraan, Libur Akhir Tahun, Liburan, Malioboro | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Patung Dementor di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2011

Posted in Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), Jogjakarta, Malioboro, Seniman Malioboro | Tagged , , | Leave a comment

Suasana Pagi di Kawasan Malioboro Jogja, Depan Hotel Inna Garuda

Posted in Hotel Inna Garuda, Malioboro, Malioboro Jogja | Tagged , , , | Leave a comment

Kantong Parkir Malioboro Molor

YOGYAKARTA – Upaya pembebasan tanah bekas Bioskop Indra di Jalan Ahmad Yani Malioboro yang rencananya untuk kantong parkir tak bisa selesai tahun ini.

Pemda DIY menargetkan upaya pembebasan tanah bisa selesai semester pertama 2013 mendatang. Kepala Dinas Pendapatan, Pengelola Keuangan dan Aset (DPPKA) Pemda DIY Bambang Wisnu Handoyo mengatakan, saat ini Badan Pertanahan Nasional (BPN) akan mengeluarkan status keberadaan tanah 7.000 meter persegi di ujung selatan Malioboro tersebut sebagai tanah negara.

Diharapkan status dari BPN tersebut akan mempercepat proses pembebasan tanah. “Kalau Indra,mudah-mudahan semester depan selesai (Januari– Juni 2013). Masih dalam proses,” ujar Bambang. Dari catatan SINDO, pada awal wacana pembebasan lahan eks Bioskop Indra tercatat ada tujuh keluarga yang menempati.

Saat ini dari laporan terakhir yang diterima Bambang, dari tiga keluarga yang masih belum bersedia pindah di awal 2012 lalu,dua di antaranya sudah sepakat. Menurut Bambang, satu keluarga yang belum bersedia melepas lahan calon kantong parkir kendaraan di Malioboro tersebut tidak pernah hadir saat diundang oleh pihak kejaksaan.

Dengankondisitersebut,hingga kemarin belum dapat diketahui alasan pasti dari keluarga yang identitasnya tidak diungkap oleh Bambang tersebut. Padatnya jalan Malioboro memunculkan berbagai wacana penataan. Salah satu yang muncul ada penyediaan lahan parkir yang prosesnya telah dimulai pada 2010 lalu. Dua lokasi yang akan dijadikan kantong parkir adalah eks Bioskop Indra di sisi selatan dan tanah di belakang Dinas Pariwisata DIY di sisi utara.

Pemda DIY sudah menyiapkan anggaran untuk pembebasan lahan tersebut sebesar Rp9 miliar di APBD Perubahan 2012.Anggaran tersebut untuk tali asih keluarga yang tinggal di lokasi calon kantong parkir di eks Bioskop Indra. Kompensasi yang disebut tali asih tersebut nilai perhitungannya 2,5% dari nilai jual objek pajak (NJOP) dikalikan luas lahan yang dimiliki. AnggotaKomisi ADPRDDIY Arif Noor Hartanto berharap, proses pembebasan lahan eks Bioskop Indra dapat selesai di 2012.

Hal tersebut menjadi konsekuensi dari keyakinan Pemda DIY saat melakukan pembahasan APBD Perubahan 2012untukposanggaranpembebasan lahan eks Bioskop Indra. Disinggung mengenai target penyelesaian pembebasan baru berakhir 2013, anggaran Rp9 miliar yang sudah disiapkan tidak akan dicairkan di 2012. “Dulu kita tanya eksekutif (saat rapat APBD perubahan) apakah pembebasan itu dirasa perlu.

Mereka bilang iya. Kalau sampai tahun 2012 ini belum selesai, nanti akan kita evaluasi lagi,” tandas Politikus PAN tersebut. Pemda DIY tercatat membutuhkan anggaran Rp18 miliar untuk melakukan pembebasan lahan tersebut. Di 2010 lalu telah dianggarkan Rp9 miliar dan di APBD Perubahan 2012 anggaran dengan besaran sama telah disiapkan untuk pembebasan lahan.

http://www.seputar-indonesia.com

Posted in Malioboro, Parkir Malioboro, Yogyakarta | Tagged , , | 1 Comment

SIMPONI: Ke Jogja, Selain Malioboro Jangan Lupa Dawet Kalasan

SETIAP musim liburan, Yogyakarta selalu penuh oleh wisatawan domestik dari berbagai kota di Jawa dan luar Jawa. Sebagian besar adalah mereka yang berasal dari daerah Yogyakarta dan sekitarnya dan kini tinggal di kota-kota lain, tetapi tak sedikit pula orang luar Yogya dan sekitarnya yang sengaja berlibur ke Yogya.

Malioboro adalah tujuan utama wisatawan, karena rasanya memang belum sampai Yogya kalau belum ke Malioboro. Padahal, Malioboro dari dulu ya begitu-begitu saja: pedagang kaki lima memenuhi emperan toko di sepanjang sisi barat jalan, Pasar Beringharjo dengan batik murahnya, mal Malioboro sebagai ikon modernitas baru, serta warung lesehannya yang mahal dengan gangguan pengamennya yang datang silih berganti.

Meski begitu, Malioboro memang selalu menarik. Menyusuri emperan toko yang padat pedagang kaki lima, keluar masuk toko yang dari dulu rasanya tak berubah, atau berjalan beringsut-ingsut di antara becak dan delman justru menjadi keasyikan tersendiri yang selalu ngangeni. Eh… siapa tahu dapat barang bagus tapi murah.

Lebih penting dari itu, sebenarnya Malioboro lebih sebagai tempat menyalurkan romantisme masa muda bagi banyak orang yang pernah tinggal dan besar di Yogyakarta dan sekitarnya.

Nah, kalau Anda kebetulan berlibur di Yogya membawa kendaraan sendiri, tentu saja banyak tempat yang bisa Anda kunjungi untuk memuaskan romantisme itu. Ada candi Borobudur, Prambanan, Parangtritis, Samas, Baron, sampai Kaliurang di lereng Merapi. Hampir di semua jalur menuju kawasan wisata itu sekarang banyak warung yang bisa membawa Anda bernostalgia ke masa lalu.

Salah satu yang boleh dicoba adalah dawet Kalasan. Ini memang bukan warung makan untuk mengenyangkan perut, tetapi sekadar tempat mampir melepas dahaga saja. Lokasinya hanyalah di pinggir jalan, tepatnya di jalur lambat Prambanan Yogya, persis di seberang bong supit Bogem yang terkenal itu.

Di sana ada berjejer-jejer pedagang dawet atau cendol bagi orang Jakarta. Tetapi ada dua yang menarik. Mereka tidak menjual dawet beras seperti kebanyakan cendol yang sekarang dijual di Jakarta, baik dawet ayu dari Banjarnegara, cendol Bandung, atau cendol-cendol dari daerah lain yang banyak dijajakan di Jakarta. Dawet bikinan Pak Sumardi dan seorang rekannya terbuat dari pathi atau tepung aren.

Berbeda dengan dawet dari bahan baku beras yang lembek dan mblenyek, dawet aren bikinan Pak Sumardi lebih kenyal. Warnanya bening, sehingga terkesan bersih. Tak heran kalau warung Pak Sumardi hampir selalu penuh. Pembelinya pun orang-orang bermobil, meski banyak juga yang bersepeda motor.

Dari plat nomornya, pembeli banyak pula yang datang dari luar Yogya-Solo yang mungkin sedang berlibur. Pak Sumardi yang asli Dusun Bogem, Kelurahan Nengahan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, itu mengaku sudah berdagang dawet aren di sana sejak 25 tahun lalu. “Meneruskan usaha bapak,” katanya.

Sehari ia bisa menghabiskan 25 kg tepung aren untuk membuat cendol. Kalau hari libur Sabtu-Minggu atau di musim liburan seperti sekarang, sehari ia bisa menghabiskan 35 kg tepung aren.

Berapa keuntungan yang didapat Pak Sumardi dari berjualan dawet aren? Ia enggan menajwab, tetapi dalam sehari minimal dia mendapat penghasilan kotor Rp 400.000-an. Kalau liburan seperti sekarang bahkan bisa Rp 500.000 sampai Rp 600.000.

Dawet item

Proses pembuatan dawet aren sama saja dengan cendol lain. Tepung aren direbus sambil terus diaduk-aduk, lalu disaring. Itu saja. Kalau Anda kurang suka dawet aren, tak jauh dari tempat mangkal Pak Sumardi juga ada pedagang dawet ayu. Kalau kebetulan Anda sudah terlanjur mau pulang ke Jakarta ada juga dawet item di Kutoarjo.

Dawet item menggunakan tepung beras sebagai bahan baku, tetapi untuk pewarnaannya digunakan jerami tanaman padi. Rasanya juga enak, meski untuk lidah dawet aren lebih nikmat.

Dawet memang minuman tradisional sejak zaman baheula. Di Yogya dan sekitarnya saat ini juga banyak dijual. Umumnya bahan yang digunakan beras, tetapi sebenarnya dawet atau cendol bisa dibuat dari bahan tepung apa saja.

Waktu dulu banyak dijual dawet ganyong. Bahan bakunya dari tepung ganyong, sebuah tanaman mirik lengkuas tapi warna akar umbinya agak ungu. Seratnya kasar. Nah dawet ganyong ini lebih kenyal. Penjualnya biasa memberi buah nangka sebagai pengharum aroma.

Selain dawetnya yang berupa cendol, pedagang biasanya juga menyediakan jenang ganyong. Antara dawet/cendol dengan jenang itu sebenarnya ya sama saja rasanya. Bedanya, cendol berukuran kecil-kecil sebagai hasil saringan, sementara jenang berupa prongkolan atau irisan besar-besar seperti halnya hungkue atau kue lapis.

Biasanya, dalam semangkuk dawet ganyong itu, dulu pedagang selalu menambahkan satu iris jenang ganyong sebagai bonus. Sayang, dawet ganyong itu sekarang sangat susah didapat, sudah berkeliling sampai ke sawah-sawah di sekitar Bantul, Klaten, dan Wonosari, tetapi belum nemu juga. Ada yang punya informasi?(ir)

Sumber: http://www.alumni.ugm.ac.id

Posted in Malioboro, UGM | Tagged , , | 1 Comment