FenomenaGunung MerapiSosok Mbah Semar

Kemunculan Mbah Semar Pada Erupsi Gunung Merapi 2020, Menandakan Wabah Covid-19 Di Jogja dan Nusantara Segera Berakhir

Demikian adalah kepercayaan masyarakat Jawa-Mataram, bahwa kemunculan awan yang menyerupai Mbah Semar dalam erupsi Gunung Merapi yang terjadi akhir Maret 2020 ini, adalah menandakan hal baik.

Dan pada saat ini adalah memang keadaan yang paling genting terjadi di Nusantara. Wabah Virus Corona atau sering kita sebut dengan Covid-19 ini masih merajelala dan menimbulkan keresahan di masyarakat.

Tiba-tiba Gunung Merapi di Jogja juga seperti ingin ikut ambil dalam suasana ini, terjadi beberapa kali erupsi mulai sekitar tanggal 24 Maret 2020. Dan gunung Merapi kembali meletus mengeluarkan awan pada hari Jumat tanggal 27 Maret 2020. Saat itu tercatat dalam seismogram amplitudonya 75 mm dan durasi 7 menit dengan kolom abu erupsi setinggi 5.000 meter. Gunung Merapi yang jaraknya kurang lebih satu jam dari Malioboro Jogja ini memang termasuk dalam gunung yang paling aktif di dunia.

Dan ditengah-tengah kekhawatiran terhadap wabah dan erupsi Merapi, beredar gambar awan hasil erupsi Merapi yang mana awan tersebut menyerupai sosok muka Mbah Semar. Yaitu salah satu tokoh dalam pewayangan yang merupakan sosok yang bijaksana. Beberapa netizen juga berkomentar bahwa dengan kemunculan Mbah Semar ini, maka dapat dikatakan bahwa bencana atau wabah (pagebluk, red bhs Jawa) akan segera berakhir di bumi nusantara.

Dalam sebuah akun facebook Ahmad Zainuddin, ditulis bahwa:
MBAH SEMAR SUDAH MENAMPAKKAN DIRI, PAGEBLUK SEGERA BERAKHIR. Menurut kepercayaan orang Jawa-Mataram. Jika gunung Merapi menyemburkan awan panas menyerupai wajah (Eyang Semar) tokoh pewayangan Jawa. Itu artinya, ada pegebluk dengan kemunculan awan panas gunung Merapi (berapi) menyerupai wajah Eyang Semar menandakan bencana segera berakhir.

Selanjutnya ditulis juga: Semoga Covid-19 akan segera berlalu dari bumi Nusantara aamiin.. Percaya boleh nggak percaya juga ndak apa.. atau abaikan saja :D. Yang terpenting kita berdoa kpd Allah, moga wabah Covid-19 segera berakhir.. aamiin.

Foto awan panas
Foto dalam potongan dekat, dan disandingkan dengan foto Mbah Semar dalam tokoh pewayangan Jawa

Semar. Tokoh wayang yang memiliki karakter fisik lucu, bahkan bisa dibilang cukup aneh. Tapi, dalam cerita pewayangan, ternyata tokoh Semar ini mendapatkan posisi terhormat dalam karakternya. Ia adalah seorang penasihat sekaligus pengasuh para ksatria. Selain itu, karakter Semar ini merupakan tokoh dengan karakter yang sederhana, jujur, tulus, berpengetahuan, cerdas, cerdik, juga memiliki mata batin yang begitu tajam.

Sifat Perwatakan Tokoh Semar

Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya. Semar selalu tersenyum, tetapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suka dan duka. Wajahnya tua tetapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki, tetapi memiliki payudara seperti perempuan, sebagai simbol pria dan wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan.

Kalau dalam istilah Jawa-nya, Semar ini sifatnya ‘Nyegara’ yang artinya hatinya seluas samudera. Di mana ia dipercaya kapraman dan kewaskitaan-nya sedalam samudera. Tak heran, jika hanya ksatria sejati saja yang bisa menjadi asuhan Semar.

Jika dilihat dari karakter fisiknya, Semar memiliki karakter fisik yang cukup unik. Tapi, keunikan fisik inilah yang dijadikan simbol dari kehidupan ini oleh masyarakat Jawa.

Semar memiliki bentuk tubuh bulat yang mana mengibaratkan bahwa bumi ini bulat. Raut wajah yang selalu tersenyum juga mata yang sembab mengeluarkan air mata ini  merupakan simbol antara suka dan duka yang selalu ada dalam kehidupan kita.

Religius

Dalam filosofi Jawa, Semar disebut sebagai Badranaya yang merupakan dua istilah di antaranya Bebadra yang artinya membangun sarana dari awal, dan Naya yang artinya Utusan mangrasul. Jika diartikan secara sederhana, membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia di muka bumi.

Semar sendiri juga memiliki istilah lain yaitu Haseming samar-samar yang artinya makna kehidupan Sang Penuntun. Semar bukan laki-laki, bukan juga perempuan. Tangan kanannya ke atas yang bermakna sang Maha Tunggal, dan tangan kirinya ke belakang yang bermakna berserah pada-Nya.

Siapa Eyang Semar Sebenarnya

Siapa yang tak kenal Semar? Setidaknya kebanyakan orang tahu Semar adalah pimpinan empat sekawan ‘Punakawan’. Sepintas memang tokoh Semar sebatas melucu dan pereda ketegangan penonton di tengah malam. Namun, menurut Sobirin bahwa dulu Sang Hyang Wenang menciptakan Hantigo berupa telur. Cangkangnya itu Togog, sedang putihnya menjadi Semar. Sedangkan kuningnya menjadi Batara Guru.

Semar yang memiliki badan gemuk tak jelas laki-laki atau perempuan. Hal tersebut menunjukan bahwa manusia pada dasarnya tidak ada yang sempurna dan masing-masing memiliki ciri khas. Kesempurnaan hanya milik Tuhan.

Umumnya, masyarakat mengenal bahwa Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa yang mana memiliki anugerah Mustika Manik Astagina dan delapan daya. Delapan daya itu adalah tidak pernah mengantuk, tidak pernah lapar, tak pernah jatuh cinta, tak pernah sedih, tak pernah capek, tak pernah sakit, tak pernah kepanasan, dan tak tak pernah kedinginan.

Di setiap pementasan wayang, Semar selalu menyampaikan kata-kata bijaknya yang sifatnya lebi hke umum. Sehingga kata-kata bijak Semar masih relevan dengan siapapun dan kapanpun. Berikut ini adalah beberapa kata bijak Semar.

Filosofi Kata Bijak Ki Semar
Urip iku Urup

Yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah Hidup itu Menghidupi. Hidup itu harus bisa memberikan manfaat pada semua orang di sekitar kita. Di sinilah kenapa hidup itu menghidupi. Agar hidup kita lebih bermakna, maka kita harus bermanfaat bagi setiap orang di sekitar kita.

Sura Dira Jaya Jayaningrat, Leburing Dening Pangastuti

Jika di-Indonesiakan, maka artinya semua sifat picik, keras hati, dan angkara murka di dalam diri kita hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijaksana, sabar, dan lembut hati. Ibarat api tidak bisa dipadamkan dengan api. Perlu air untuk memadamkannya. Begitu juga dengan sifat jelek kita, harus kita redam dengan sifat baik kita, yaitu dengan kebijaksanaan, rendah hati, dan sabar.

Datan Sering Lamun Ketaman, Datang Susah Lamun Kelangan

Kata bijak Semar yang satu ini memiliki makna, bahwa jangan bersedih saat mengalami musibah yang menimpa kita, juga jangan sedih jika kita sedang kehilangan sesuatu. Karena semua akan kembali kepada-Nya. Inilah hakikat hidup.

Dari update status social media diatas, walaupun tulisannya terkesan agak tergesa-gesa, namun dapat kita ambil penjelasan bahwa pagebluk (wabah) akan segera berakhir di bumi Nusantara.

Entah ini benar atau tidak tinggal kita sendiri yang mensikapi. Anda bisa melihat gambar awan panas dan foto sosok mbah Semar tersebut.

Betul mirip ya ternyata?

Sumber:
– Jagad.id
– Artikel internet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *